Leuit Simbol Kedaulatan Pangan

leuit2 200x150 Leuit Simbol Kedaulatan Pangan

Leuit yang terisi penuh

Di kampung saya, Magek-Bukittinggi, lumbung padi sudah tak digunakan lagi. Maka tak aneh melihat Rangkiang (lumbung) yang biasanya berdiri di depan rumah gadang sama merananya dengan rumah gadang itu sendiri. Masyarakat sepertinya sepakat seluruhnya masuk dalam sistem ekonomi moderen. Surplus padi tak lagi disimpan sebagai cadangan makanan melainkan  dijual ke pasar. Uang hasil penjualan baru disimpan ke bank.

Berbeda dengan Kesatuan Masyarakat Banten Kidul atau Kasepuhan Banten Kidul yang hidup di lereng gunung Halimun. Disini ada Leuit yang bisa dijadikan sebagai simbol kedaulatan pangan. Sebab nenek moyang mereka tak membolehkan padi dijadikan komoditi. Aturan tersebut dipegang erat sampai sekarang. Produk pertanian lain boleh dijual tapi padi tidak. Pernah saya tanya pada seorang penduduk Kasepuhan, apa hukumannya jika larangan di langgar? Menurutnya tidak ada hukuman dari para tetua adat, hanya tidak seorangpun diantara penduduk yang berani menyimpang aturan karuhunan (nenek moyang). “Pamali” katanya.

leuit Leuit Simbol Kedaulatan Pangan

Leuit

Maka surplus sawah disimpan dalam suatu bangunan kecil bernama Leuit. Bangunan yang berdiri diatas empat tiang kayu, berdinding bambu dan beratap rumbia ini dimiliki oleh hampir seluruh rumah dalam Kasepuhan Banten. Pertama melihat, dulu, saya pikir itu rumah mainan anak-anak atau gudang penyimpanan alat-alat pertanian. Tapi karena jumlahnya banyak dan tersebar di seluruh desa baru tahu kalau bangunan itu adalah penyebab mengapa masyarakat di desa itu tak pernah kuatir pada kenaikan harga beras di pasar.

Dalam kekisruhan produksi padi nasional dan intaian bahaya kelaparan yang memaksa pemerintah Indonesia mengimpor beras, kecerdikan nenek moyang orang Banten dalam membangun sistem leuit berhasil menghindarkan anak-cucu mereka ikut2an resah pada sistem perberasan Indonesia saat ini.

padi Leuit Simbol Kedaulatan Pangan

Dengan diikat dan dicantel pada sebatang bambu, padi dikeringkan sebelum masuk leuit

Dalam sistem Leuit, masyarakat Kasepuhan Banten takan kekurangan beras. Kok bisa? Begini ceritanya:

Leuit diatas disebut Incu Buyut, lumbung-lumbung kecil yang dimiliki warga. Lumbung kecil ini dibawahi oleh Leuit si Jimat, lumbung besar yang terletak dekat Imah Gede, yaitu tempat tinggal kepala adat Kasepuhan Banten Ciptagelar. Dulu di kepalai Abah Anom dan setelah wafat sekarang digantikan oleh Abah Ugi, anak beliau.

Tiap tahun Ciptagelar menggelar upacara adat  Seren Taun. Ini semacam acara syukuran setelah panen. Dalam acara ini Incu Buyut menyumbangkan padi untuk mengisi Leuit si Jimat. Besarnya tergantung kemampuan warga. Nah bila sesuatu terjadi, sawah warga tak bisa panen, mereka boleh meminjam kepada Leuit si Jimat. Itu lah bentuk kearifan lokal yang membuat mereka berdaulat atas pangan sendiri.

Leuit juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Tambah banyak Leuitnya tambah tinggi gengsi pemiliknya.

Bagaimana menurutmu, temans? Perlukah hal seperti ini jadi contoh bagi kita?

Salam,

Evi

 

 

 

About JEI~Jurnal Evi Indrawanto

Nature and culture lovers of Indonesia. I also wrote about palm sugar or gula aren. Thank you for visiting. Please leave your comments below
Bookmark the permalink.

40 Comments

  1. Salam kenal, Mbak
    Ini cerita tentang Baduy
    Saya dulu pernah ke sana tahun 2003, tapi nggak sampe lihat dalamannya leuit, padahal saya dapet tugas meneliti tentang kebudayaannya.

    Pengajaran nenek moyangnya sungguh luar biasa, layak ditiru. Tapi apa bisa? Sedang padi saja sebagian dari kita (saya) tak punya :|

    • Menarik mengamati kebudayaan sunda yg terdapat dlm kesatuan adat banten kidul ini. Agal berbeda dr sunda mainstream tampaknya. Kalau kita sbg individu mungkin gak bs menirunya Mbak, tp pemerintah sbg sistem bs meniru. Misalnya dng membuat koperasi beras di kecamatan2. Salam kenal kembali Mb Anaztasia, terima kasih sdh mampir :)

  2. Rasanya aneh, tanah seluas dan sesubur Indonesia sampai harus mengimpor beras. Ada yg salah dengan sistem ketahanan pangan kita Mbak Vi…

    Adanya leuit di atas, patut diacungi jempol, mandiri di tengah adat.

    • Berangkat dr fakta tsb, emang mengherankan mbak Lia. Dan penelitianpun sdh banyak dilakukkan bahwa kita gak pantas impor beras. Namun kenyataan kita tetap impor beras.Republik mumet Mb Lia hehe..

  3. rangkiang di ranah kita skrg tinggal sbg hiasan saja, uni..

    acung jempol untuk masyarakat wilayah kasepuhan banten.
    sudah seharusnya diteladani kembali oleh bangsa kita yang besar ini.

    • Iya, ngenes jg melihatnya ya May. Tp kita msh beruntung msh melihat sisa2nya skrg. Cucu kita mah cuma bakal dengar ceritanya hehe

  4. Leuit..
    AKu sering lihat di liputan TV..
    Mereka tetep mempertahankan adat di jaman yang modern ini..
    perlu di acungin jempol ya..

    Penasaran pengen lihat Leuit dari dekat..

  5. aku langsung ingetnya sama restoran “d’Leuit” yang ada di Bogor Ibu hihihi *susah kalo otaknya makanan mulu*
    sepertinya sudah jarang saya menemukan lumbunglumbung padi sekarang, dulu waktu masih kecil setiap pulang ke rumah Papa, saya masih menemukan lumbunglumbung padi yang penuh dengan simpanan padi petani, tapi sekarang sudah menghilang lumbunglumbung itu, berganti dengan bangunanbangunan beton, prihatin :(

    • Lumbung padi tak sanggup dealing dng perubahan kita Miss. Skrg pasar yg mengatur semua kebutuhan kita. Untung jg lah gaya hidup organis skrg marak. Setidaknya disana ada usaha utk memandirikan diri dr pasar. Sedikit2 sprt nanam sayur sendiri. Tp ini lumayan dr pada tidak sama sekali. Kalau aku skrg daun pandan dan cabe rawit gak perlu beli :) ohya bentar lg panen jahe organik

  6. Hihihi aku lagi tertarik dengan ekonomi pangan,
    eh baca artikel di sini.
    Nambah pengetahuan nih, makasih Mbak Evi ^^

  7. Posting yang menarik, padahal kalau dipikir lagi rasanya enak hidup di jaman dulu, masuk akal untuk melarang menjual padi ke pasar, akibatnya ya seperi sekarang, beras naik pada ‘protes’, hehe… :-)

    • Beda jaman beda masalah sih Mas. Dulu penduduk msh sedikit dan tuntutan hidup belum begitu banyak. Skrg penduduk berkembang dan cara2 hidup berubah. Dan ternyata kita gak banyak berubah, lupa bahwa kemoderenan itu hrs ditangani dng terencana. Akibatnya ya gitu deh, produksi beras saja kedodoran

  8. Kebiasaan menyimpan padi masih berlangsung didaerah saya, tapi sudah berubah sistem, dahulunya diikat seperti di Banten, tp sekarang sudah disimpan dalam karung. Soal menjual padi jarang, kebanyakan dalam bentuk beras

    • Jenis padi yang ditanam juga sdh beda kali Mas Citro. Sebetulnya jualan pada atau beras gak jauh beda. Cuma beras sdh memiliki nilai tambah dikit :)

  9. kalo ditempat saya bentuk leuit sudah berganti, jaman saya masih kecil menggunakan papan kayu, tapi sekarang menggunakan tembok karena lebih tahan terhadap serangan tikus. Memang dahulu padi yg dimasukan leuit berbentuk ikatan karena jaman dahulu masih jarang karung beras dan jenis padinyapun berbeda dg sekarang. klo model skrng masih menggunakan ikatan akan banyak butiran padi yg jatoh dari tangkainya.

    Memang benar leuit merupakan salah satu ciri simbol sosial, semakin banyak leuit semakin tinggi sosaialnya karena pasti lahan pertaniannya luasa dan padinya semakin banyak.

    • Terima kasih atas tambahannya Mas. Saya perhatikan leuit orang Banten ini emang rada riskan dari tikus, meski kata mereka ada cara-cara tertentu yg mereka lakukan untuk mencegah tikus masuk ke dalam..Tapi emang tembok jauh lebih baik, sepanjang kontruskinya juga menunjang.

  10. Kereen sekali Uni, leuit – lumbung dan kedaulatan pangannya. Tuk padi bergagang pendek sulit diikat ya Uni jadinya di beberapa tempat disimpan dalam bentuk gabah. Salam

    • Oh rupanya pada ada gagang pendek ada pula yang panjang ya Mbak Prih? Tadinya aku pikir gagang padi semua sama hehehe..Thanks atas pencerahannya Mbak :)

  11. Jadi inget pas jalan-jalan ke Baduy dulu…beras disimpan di dalam lumbung seperti di foto2 ibu, sebuah kearifan lokal.

    Mengambil yg seperlunya dan disimpan sebagian untuk masa kedepannya.

    • Bahkan di Baduy aturan Leuit lebih ketat lagi ya Mas Toto. Kalau masih bisa beli, tak makan beras dari pada di lumbung

      • Bener banget Bu. Di Badui aturannya sangat ketat kalau itu menyangkut tatanan dan keseimbangan lingkungan. Sepert tidak boleh memelihara binatang berkaki empat, mandi di sungai tidak boleh memakai sabun dsb.

        Leluhur Baduy sangat paham. bagaimana kerusakan lingkungan akan berakibat fatal untu masa depan anak cucu mereka. Inila kearifan2 lokal yang seharusnya kita bisa belajar dari sana

  12. jadi teringat kunjungan saya ke baduy dulu, waktu itu saya sempet ngobrol sama ketua adatnya yang akrab di panggil aki saidi. Dibalik kata ‘pamali’ itu banyak tersimpan kearifan leluhur baduy terutama yang berhubungan dengan kelestarian alam. Padahal dunia modern baru menyadarinya sekarang ini dengan istilah global warming. Kesederhanaan pola hidup mereka merefleksikan konsep egaliter dalam arti sebenarnya bukan hanya jargon kosong belaka…hidup para leleuhur!!!

  13. jadi kangen ke Halimun hiks …
    kapan bisa ke sana lagi?
    rasanya tak mampu naik ke atas hehehe
    tadi kirain leuit itu ada di BT eh gak taunya masih di tanah Jawa toh
    semoga saudara2 di sana tetap bisa mempertahankan keberadaan leuit ya mbak :D

  14. Leuit, bahas suku baduy pernah baca novel setting suku baduy dalam yang bener2 masih memegang teguh kepercayaannya..

    Coba di seluruh indonesia masih ada lumbung begini, wah musim paceklik pun tetep bisa makan nasi :D

  15. Hebat banget yah, budaya lama gak tergerus oleh arus modernisasi. Kalo ditanya perlu atau gak ditiru, menurut aku sih perlu banget mbak. Walo mungkin caranya gak persis sama, tapi yang terutama bisa ditiru filosofinya untuk mempertahankan kedaulatan. Negara kita negara kaya, punya begitu banyak sumber daya, namun sebegitu bergantungnya dengan apa yang terjadi di luar sana.

    Suku baduy sudah membuktikan bahwa mereka sanggup mempertahankan kedaulatan tanpa terpengaruh apa yang terjadi di luar lingkungan mereka, berarti seharusnya negara kita juga bisa seperti itu….. asal mau dan rela sih…

  16. leuit gak ada disekitar rumah saya bun :)

  17. Nah, mestinya sistem yg sangat menunjang kedaulatan pangan ini perlu dilestarikan & di sebar luaskan ya mbak..bukannya malah cenderung di hilangkan… *jangan2 cuma tinggal di halimun ini ya..*

  18. yang paling penting apa pun system yang digunakan,semua kembali kepada manfaatnya yang merata yang bisa dirasakan semua orang bukan hanya satu kaum saja

  19. baca lumbung langsung inget lirik lagu kang Iwan fals “di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung, masa panen masa berpesta, itulah harapan kita semu, dst ”
    dulu waktu di kampung nan jauh disana sama ada lumbung padi umum terbuat dari kayu.. ada yang mengelola tujuanya juga sama membantu warga yang kehabisan bekal (beras). di kembalikanya nanti kalau panen. sempat pakum dalam waktu yang lama tapi sekarang denger denger sudah di rintis lagi…

  20. yang patut dicontoh adalah kearifan warga terhadap alam dan lingkungan sekitar, lumbung padi sederhana seperti itu tidak membutuhkan alat berat atau mesin yang dar der dor suaranya bising bahkan merusak alam. two thumbs fotonya keren-keren

  21. artikelnya menarik. Kalau di daerahku sudah susah mendapati lumbung-lumbung seperti itu …

  22. Benar bu …
    Saya rasa ini kearifan lokal yang bijak dalam menyikapi ketersediaan pangan …

    saya baru tau kalau itu namanya … Leuit

    Salam saya Bu Evi

    • Sedikit kearifan lokal yg alhamdulillah mampu bertahan dari hantaman gelombang perubahan jaman Om. Karena hingga hari ini rakyat kasepuhan Banten tetap sejahtera tanpa menjual padi, semoga sistem Leuit tetap bertahan untuk waktu lebih lama. Semoga…

  23. outbound ttaining di malang

    kunjungan gan.,.
    bagi” motivasi.,.
    fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    • Pikiran positif menghasilkan yg postif. Jadi mari kita berpikir postif. Makasih sdh berkunjung, iya nanti saya akan berkunjung balik :)

  24. Pingback: Blog dalam Presentasi | RyNaRi

  25. Pingback: Mengapa Orang Kampung Lebih Sehat? | Jurnal TransformasiJurnal Transformasi

  26. Pingback: Orang Kampung Lebih Sehat? | Jurnal TransformasiJurnal Transformasi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge