
Key Takeaways
- Wali Songo terdiri dari sembilan wali terkenal tetapi sebenarnya merupakan dewan dakwah yang lebih besar.
- Institusi ini menyebarkan Islam melalui strategi akulturasi budaya, tanpa memaksa, dengan menggunakan seni dan arsitektur.
- Menara Kudus menjadi contoh akulturasi menara kudus yang menggabungkan elemen Hindu dan Islam dalam arsitekturnya.
- Tradisi Buka Luwur menunjukkan toleransi beragama, seperti larangan penyembelihan sapi untuk menghormati umat Hindu.
- Sunan Kudus mengajarkan pentingnya akulturasi dengan cara yang menghormati tradisi lokal dan merangkul keberagaman.
Halo Sobat JEI! Masih ingat pelajaran sejarah SD tentang Wali Songo? Kita pasti pernah menghafal sembilan nama penyebar agama Islam di tanah Jawa ini.
Mereka adalah Waliyullah atau kekasih Allah yang terdiri dari: Syaikh Maulana Ibrahim, Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qasim (Sunan Drajat), Raden Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Raden Sahid (Sunan Kalijaga), Raden Umar Said (Sunan Muria), dan Sayyid Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Tapi, tahukah Sobat JEI kalau Wali Songo sebenarnya lebih dari sekadar sembilan orang?
Mengenal Dewan Wali Songo Lebih Dalam
Rupanya, dulu kita mungkin kurang teliti menyimak sejarah. Wali Songo sejatinya merujuk pada sebuah institusi atau dewan dakwah (Council of Saints). Tugas utama mereka menyebarkan Islam secara terorganisir di Nusantara.
Dewan ini mengangkat sembilan orang wali sebagai pemimpin pergerakan di tanah Jawa. Sistemnya unik. Jika satu wali wafat, dewan akan memilih penggantinya. Jadi, jumlah wali sebenarnya sangat banyak, tidak hanya sembilan orang yang kita kenal selama ini. Sembilan nama populer itu adalah konsensus dari pemimpin kunci dalam dewan tersebut pada eranya.
Secara historis, lembaga ini mirip dengan sistem “Syura”. Beberapa literatur sejarah, seperti Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, mencatat bahwa majelis ini terbentuk pertama kali pada 1404 M. Mereka bekerja sistematis membagi wilayah dakwah berdasarkan kondisi sosiologis masyarakat setempat, mulai dari pesisir hingga pedalaman Majapahit.
Baca juga:
Akulturasi Budaya Masjid Kudus sebagai Strategi Dakwah
Sobat JEI mungkin pernah bingung, bagaimana masyarakat tahu ada wali baru? Institusi Wali Songo-lah yang mengaturnya. Mereka punya strategi jitu: tidak memaksa, tidak berperang, dan haram mengkafirkan orang lain.
Pada masa itu (1400–1600 M), mayoritas masyarakat memeluk Hindu dan Buddha. Para wali memilih jalur kebudayaan atau Cultural Acculturation. Inilah pertemuan dua budaya yang melahirkan budaya baru yang orisinal tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Strategi ini dikenal sebagai Dakwah bil Hikmah. Para wali menggunakan wayang, gamelan, dan arsitektur sebagai media. Tujuannya agar Islam dianggap sebagai “baju baru” yang nyaman, bukan ancaman bagi tradisi leluhur yang sudah ada.
Menara Kudus – Jembatan Akulturasi Menara Kudus dan Hindu

Indonesia adalah melting pot sempurna dari tradisi Hindu, Buddha, dan Islam. Salah satu bukti fisik paling ikonik adalah dari contoh akulturasi budaya Masjid Menara Kudus ini.
Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Kudus dan mampir ke Masjid Al-Aqsa, atau populer dengan sebutan Masjid Menara Kudus. Di sebelah masjid peninggalan Sunan Kudus ini, berdiri gagah menara setinggi 18 meter. Bangunan tahun 1687 ini unik karena bentuknya justru mirip candi Hindu, bukan menara masjid Timur Tengah.
Menara ini menjadi jembatan akulturasi Menara Kudus yang menghubungkan masa lalu Hindu-Jawa dengan masa depan Islam.
Arsitektur menara ini mengadopsi gaya Hindu-Majapahit. Struktur bata merah tanpa semen (gosok) mengingatkan kita pada Candi Singosari atau Bale Kulkul di Bali. Penggunaan 32 piring keramik Vietnam di dinding menara menunjukkan bahwa Kudus saat itu sudah menjadi kota kosmopolitan dengan jaringan perdagangan internasional yang luas.
Simbol Toleransi dalam Tradisi Buka Luwur
Sunan Kudus menggunakan menara ini untuk memukul bedug sebagai tanda masuk waktu salat. Bunyinya “Dang.. Dang..”, yang kemudian melahirkan tradisi Dandangan. Tradisi ini masih hidup dan meriah di Kudus setiap menjelang Ramadan.
Penghargaan tinggi terhadap pemeluk Hindu juga terlihat nyata dalam tradisi Buka Luwur (ganti kelambu makam). Acara ini berlangsung tiap 10 Muharram. Panitia menyajikan Nasi Jangkrik dengan lauk daging kerbau, bukan sapi.
Mengapa kerbau? Karena Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi untuk menghormati umat Hindu yang menganggap sapi hewan suci.
Sikap Sunan Kudus ini adalah masterclass dalam toleransi beragama. Dengan melarang penyembelihan sapi, beliau memenangkan hati kaum elit Hindu dan masyarakat awam tanpa perlu berdebat teologis. Inilah pesan dari akulturasi budaya Masjid Kudus yang sesungguhnya; Islam hadir mengayomi, bukan menyingkirkan.
Gimana Sobat JEI? Masih ingat pelajaran sejarah ini atau baru sadar betapa kerennya strategi nenek moyang kita?
eviindrawanto.com
