Goa Safarwadi – Pamijahan

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Pintu Masuk ke mulut Gua Safarwadi yang dipenuhi para peziarah

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang Goa Safarwadi – Pamijahan. Terletak di Kabupaten Tasikmalaya yang terkenal dengan kerajinan rakyatnya. Juga terkenal sebagai rumah bagi makam seorang ulama besar bernama Syeh Abdul Muhyi. Makam tersebut terdapat di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantar Kalong. Sekitar 2 KM dari makam juga terdapat  gua yang menembus perut di Gunung Mujarod. Dua lokasi ziarah ini telah jadi buah bibir, membuat Goa Safarwadi – Pamijahan diceritakan dari mulut ke mulut sampai terkenal sampai ke penjuru nusantara. Efeknya adalah Pamijahan menerima ribuan wisatawan rohani tiap tahun. Mereka  datang dengan berbagai keperluan.

Dan saya, pejalan yang gak jelas juntrung ini ( icon smile Goa Safarwadi   Pamijahan )diberi kesempatan oleh Allah berkunjung ke Goa Sarfarwadi – Pamijahan Sabtu kemarin. Sore hampir menghilang dari batas cakrawala. Awan menyapu langit jingga. Yah sebentar lagi adzan Magrib akan berkumandang. Saya dengan takzim menaiki tangga satu persatu menuju makam yang sudah amat sering melintas di telinga.Sesampai di atas langsung bergidik menyaksikan bagaimana ratusan peziarah berdoa khusuk di dekat makam wali Allah ini. Keterkejutan rohani juga membuat merinding saat menyusuri goa Safar Wadi yang melegenda itu. Jika mengutip bahasa arab bisa membuat seseorang  terlihat relijius, saya tak termasuk di dalamnya. Tapi menghadirkan diri di tempat ini memampukan saya melihat ke dalam mata batin, apa sebetulnya yang disebut perjalanan spiritual itu.

Mengenai  makam Syeh Abdul Muhyi akan ditulis dalam posting terpisah pada kesempatan lain. Kali ini mau cerita soal goa Safarwadi saja icon smile Goa Safarwadi   Pamijahan

Berjalan Masuk ke dalam Goa Sarfarwadi – Pamijahan

Ohya jika temans bermaksud berkunjung ke Pamijahan pastikan jantung dan kaki dalam kondisi sehat. Sebab makam dan goa pamijahan terletak di atas bukit. Dari lokasi parkir kita perlu berjalan sekitar 1 kilo lagi dengan menelusuri jalan yang turun-naik. Untungnya  selama perjalanan  kita tak perlu mati kebosanan karena bisa cuci mata atau belanja. Sebab di kanan-kiri disediakan Pemda bagi para pedagang makanan maupun kerajinan khas Tasikmalaya. Jadi kalau  kurang sehat kan sayang bila nanti cuma tinggal di penginapan icon smile Goa Safarwadi   Pamijahan Tapi tak perlu pula banyak khwatir, sebab saya lihat banyak pula kaum manula oke-oke  saja menuju tempat ziarah ini.

Goa Safar Wadi ditemukan Syech Abdul Muhyi setelah 12 tahun pencarian. Konon goa ini dulunya digunakan  oleh Syech Abdul Qadir Jaelani untuk mewisuda muridnya yang telah selesai menerima pelajaran agama. Mengenai sejarah Syech Abdul Muhyi dan Syech Abdul Qadir Jaelani baca di Wiki saja ya :).

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Menjelang masuk berbaris di mulut gua.

Sejak dari mulut gua saya sudah tripping. Bukan hanya mengenai pengalaman batin yang akan dilalui nanti juga saya gak ngerti gimana setelan camera di tempat gelap. Konyolnya. Padahal sudah berniat agar punya foto-foto bagus di sini tapi kok ya malas belajar. Begitu pun teman-teman yang akan datang ke sana jika ingin mendokumentasikan perjalanannya sebaiknya mempersiapkan camera dengan baik. Tak hanya  malam hari, gua Safarwadi juga gelap di siang hari. Night mode di camera saya tidak membuat  objek yang tetangkap seperti yang saya mau.

Tertatih-tatih menjejajakan kaki dalam gua berbatu, lembab, panas, berpenerang petromaks dari pemandu, membuat saya membayangkan Syech Abul Muhyi bersama muridnya berjalan di tempat ini ratusan tahun yang lalu. Mereka pasti menggunakan obor. Atau kah melangkah dalam gelap gulita? Apapun lah yang jelas situasinya jelas pasti beda. Pasti lebih mistis, hening, dan hanya berisi  lantunan pujian-pujian kepada Allah. Walaupun lantunan salawat dari rombongan saya juga tak henti mengalun sepanjang jalan, beberapa kali terpeleset di jalan licin membuat perhatian saya jadi terbagi.

Kondisi Dalam Gua Safarwadi

Goa Safarwadi memiliki beberapa cabang. Tak jauh dari pintu masuk, disebelah kanan,  kita akan bertemu cabang pertama. Di sini mengalir air bening Cikahuripan atau disebut juga air zam-zam Pamijahan. Air yang merembes  dari sela-sela batu cadas ini mengalir sepanjang tahun. Menjelang Ramadhan para peziarah akan membawa pulang sebagai oleh-oleh dalam botol bekas kemasan air mineral. Menurut kepercayaan meminum air ini selama puasa menjaga kesehatan tubuh.

Terus maju bertemu cabang ke dua. Berbentuk huruf U yang bila kita telusuri akan membawa kembali ke jalur utama. Di seksi U inilah banyak ceruk-ceruk yang paling banyak ceritanya. Ada yang digunakan sebagai Masjid untuk pria dan masjid untuk wanita. Cekungan lain dianggap sebagai pintu menuju Mekah, Banten dan Cirebon yang akan tembus ke Gunung Jati. Terus ada Jabal Kupiah.Tempat ini dulu digunakan Syech Abdul Muhyi untuk semedi mendekatkan diri kepada Allah. Tapi alah mak, tempatnya panas sekali, menyerupai ruang sauna. Sebentar saja kaca mata berembun dan lensa camera berhenti berfungsi karena ditutup uap air.  Setelah baca doa saya cepat beringsut, memberi giliran kepada orang lain selain emang gak tahan terhadap panasnya..

Ada satu ruang spektakuler menurut saya yang kalau gak salah namanya Cikajayaan atau Pesantren, lupa yang mana. Teras lebih lebar dari ceruk2 lain, bertangga, dengan langit-langit tinggi menyerupai kubah Masjid. Dalam ruang penuh kabut air ini teman-teman saya menghabiskan waktu lebih banyak. Memanjatkan doa kepada Allah dengan segala niat dan memohon kepada-Nya agar dikabulkan. Dan saya meminta agar diberi kesehatan supaya bisa menjelajahi tempat-tempat seperti ini lebih banyak. Terus beringsut turun sambil berpikir, betapa perjalanan rohani itu memang tidak mudah. Pantasan hanya beberapa gelintir orang saja yang terpilih dalam menyandang sebutan Waliyullah, kekasih Allah..

Berkunjung ke Pamijahan tak perlu takut kemalaman atau tak tersedia tempat menginap. Pamijahan terbuka 24 jam dengan sarana menginap berupa rumah-rumah penduduk. Selamat jalan-jalan kawans icon smile Goa Safarwadi   Pamijahan

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Berjalan hati-hati agar tak terpeleset

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Saya baru pertama kali jalan-jalan ke perut bumi :)

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Lokasi air zam-zam

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Mau naik ke Cikajayaan

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Malam-malam dengan lantunan salawat, suasana mistis emang tak terhindarkan

 Goa Safarwadi   Pamijahan

Mulut goa jalan ke luar

Keluar dari Safar Wadi saya basah kuyup namun merasa batin berisi sesuatu. Bagaimana teman-teman, tertarik mau jalan-jalan ke sini?

Salam,

 

Comments

  1. LJ says

    uniii.. urusan masuk goa aku masih cemen.. ke goa jepang hanya bbrp tangga aku udah balik lagi, wkwkk… kmrn kita masuk lobang penambangan batubara.. tiap sebentar nanya sama guide, ini udahan apa belum..? :P

    • says

      Hahaha..May, lain kali kalau masuk gua, undang aku saja buat nemenin..Tanggung cemennya hilang..Lah paling2 kalau ada yg takut aku lari duluan…

  2. mechta says

    Waah..saya baru dengar eh baca kali ini bahwa ada gua itu.. *katro* Trims mbak Evi, jadi berharap juga kapan2 bisa menikmati sendiri wisata rohani ini… Oya, saya suka foto yg ke-4 mbak :)

    • says

      Foto ala kadarnya Mbak Mecta but thanks ya..
      Kapan-kapan tempat ini mesti jambangi nih Mbak..Ada sesuatu di sini yang bikin orang bejubel datang :)

  3. says

    waktu masih kecil sempat beberapa kali ke sana….
    wah penerangan masuk goanya masih sama menggunakan petromak….
    terus kalao dulu pas keluar dari mulut goa banyak yang menjajakn buah kalau gak salah namanya buah picung entah sekarang….
    oleh oleh yg di beli hanya tongkat rotan…

    • says

      Kang Yayan, sepertinya manajemen bisnis di pamijahan sdh diatur dg baik. Kemarin tak tampak ada pengasong di makam maupun goa syech abdul muhyi. Semua sdh tertata apik di sepanjang jalan menuju lokasi. Buah picung? Duh ada ya disana? Kemarin aku kok gak lihat sih, sayang deh…

  4. says

    pertama ini tempat keren banget ya….. jadi mau kesini nih…
    kedua tuh fotonya keren juga… ISOnya tinggi ya… kok banyak noisenya ya… nice try ya….

    • says

      Iya Bro, tempat ini keren untuk hunting foto. Iso tinggi, hanya itu yg bisa aku lakukan dalam kondisi kepepet hehe..kalau punya waktu, menggunakan tripod dan shutter speednya disesuaikan hasilnya pasti keren banget Bro. Ayuh burian datang kemari…:)

    • says

      Kayaknya goa ini gak pernah sepi dr pengunjung Jo Budi. Dari sedikit wawancara dengan penduduk sana, tiap akhir pekan minimal ada 15 bud yg berkunjung kesana. Tapi pada masa peak seasons sprt muharam dan menjelang ramadhan, duh ratusan bis kali..:) amin, semoga segera terlaksana kunjungan kesana Jo

    • says

      Pengeb bangat enggak juga sih Bro, karena goa ini berupa lorong dua pintu, masuk dan keluar. Jadi udara bebas keluar masuk. Yg pengeb ruang ceruk2 di kiri atau kanan, disana ruang mati yg tak memungkinkan udara mengalir dng bebas.

  5. says

    Liat foto-fotonya jadi keinget sama film Journey To The Center of The Earth, mbak :D. Seru banget ya, walo aku belum tentu berani masuk ke gua kayak gitu, hihihi…soalnya pasti langsung keingetan sama film2 trus malah jadi kebayang dalam gua itu ada hewan apa kek gitu yang sembunyi trus karena ngerasa terganggu sama orang banyak yang masuk akhirnya dia keluar dari persembunyiannya..hihihi

    • says

      Dulu di Bukittinggi, masuk goa Jepang yg telah tertata apik saja aku gak berani Jeng Lis. Namun dng bertambahnya umur keberanian saya meningkat. Semoga dirimu juga begitu nantinya hehe…

  6. Johar Manik says

    Kalau masuk gua, Ane belum pernah…. . Kapan-kapan mau dicoba, seorang kawan pernah menawarinya di daerah Gunung Kidul

    • says

      Untuk menambah pengalaman, lumayanlah Pak Johar. Apa lagi bila dlm pemahaman keagamaan kita, ziarah dibolehkan :)

  7. bintangtimur says

    Mbak Evi, biarpun jarak Tasik – Garut cuman satu setengah jam, tapi saya belum pernah ke gua Pamijahan ini lo..kenapa ya? Saya dulu cuman ke Kampung Naga aja…mbak juga kesana kah?
    Trima kasih informasinya ya, siapa tau saya ada kesempatan ke daerah itu lagi, saya pengen merasakan gimana aura gua ini :)

    • says

      Kampung pamijahan ini kurang terangkat dari sisi budayanya Mb Ir. Terkenalnya cuma sbg tempat ziarah. Makanya kurang terekpose Mbak. Dan saya pernah ke kampung naga tp duluuu sekali, sebelum rajin ngeblog. Jadinya perjalanan tsb tak terdokumentasikan :)

    • says

      Waktu itu aku ikut rombongan Mbak..Yang ngatur ketua rombongan semua. Jadi saya tak tahu persis berapa tiket masuknya..Maaf ya Mbak Siti :)

    • says

      Ngapain bawa tas makanan ke dalam Mas? Kalaupun boleh menurutku sih gak perlu..Disamping berpotensi mengotori gua, kan lebih baik khusuk di dalam menikmati suasananya. Kalau makan mah di luar kan bisa :)

  8. daru says

    saya kesana pertama masuk dimulut gua yg kecil langsung merinding dan ada pertapaan walisongo dan jalan tembusan ke mekkah. pada beberapa tahun lalu ada oeg yg mencoba msk tetapi didalam semakin mengecil. adanya air sejuk yg mengalir entah dari mana

    • says

      Waktu masuk ke dalam aku emang gak sampai masuk ke jalan yg menuju Mekah itu sih Mas. Tak punya keberanian aku hehehe..Nah apa lagi kalau sampai didalam di semprot air yg menyejukan itu..Ditengah hawa panas pasti pingsan aku saking kagetnya..

  9. Darsono anoy says

    Kalau aku pertama masuk goa batin terasa sedih entah kenapa sampai aku menetesjan air mata

Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge