26 Comments


  1. benar banget bu Ev saya juga suka dongkol ke para pengutang yang menunda pembayaranya.. lebih dongkol lagi sama yang gak mau bayar dg berbagai alasan…

    jadi harus selalu optimis ya bu ?

    Reply

    1. Harus tetap optimis Kang…Kalaupun marah2 gak membantu masalah sih…Jd mending optimis, demi ketenangan batin kita sendiri :)

      Reply

      1. ibu evi @ iya bu Ev, tapi kalau saya sampai marah gak pernah Bu… yah kadang nerimo aja… hehe

        mbak Ely @ oh pernah ngalamin juga mbak El ?

        Reply

        1. Kalau nagih hutan, kadang saya nrimo Kang, kadang lagi ngotot juga hehehe..Tergantung mood juga sih..

          Reply

  2. dapat ilmu baru … saya termasuk orang yg mood-moodan, jadi sepertinya mesti belajar merubah interpretasi internal ke arah pemberdayaan nih biar emosi stabil …
    Terima kasih bu Evi ..

    Reply

    1. Ceritanya belum stabil gitu ya Mas Hindri..Hehehe..Ini bagian dari kemanusiaan kita deh..mood itu selalu berubah..aku juga sering gitu kok mas..tapi emang sih alangkah baiknya kalau mood itu kita kendalikan untuk pemberdayaan :)

      Reply

  3. Contohnya dalam dunia kesehatan. Betapa sulitnya kita mengubah perilaku warga, meskipun kita telah berulang kali memberikan penyuluhan. 😀
    Selain karena kurangnya motovasi dalam diri, mereka juga cenderung tersugesti bahwa tiada guna mengikuti apa yang disaran para penyuluh…

    Reply

    1. Karena preferensi itu emang sulit dirubah Mbak Akin..Preferensi yang telah kita anut selama bertahun-tahun, jika ingin dirubah, butuh kesadaran dan motivasi tinggi untuk melakukannya..Dan itu yang membedakan manusia…:)

      Reply
  4. Bukan siapa siapa

    ini bener banget.. tapi kok susahnya menjalannya… memang semuanya dimulai dari sebuah pikiran.. makanya yang namanya hipnotis buat kepentingan seperti ini bisa berjalan dengan baik.. pernah ikut training NPL.. ya seperti ini juga… coba deh. setelah pulang traningnya akhirnya tetep ga bisa.. hehhe

    Reply

    1. Training sekali pasti gak bisa lah menyingkir preferensi yg sdh berakar kuat dalam syaraf kita Bro Romanus..Preferensi yg kita anut sekarang, kita kumpulkan selama bertahun-tahun..Pasti butuh waktu untuk merubahnya..Gak bisa sekali jadi. Jalan tol juga gak dibangun dalam semalam kan? :)

      Reply

  5. Bahasan yang menarik kak Evi. Ttg “Mengarahkan Perilaku” … baru2 ini saya baca (dikait2kan dengan contoh kucing kesayangan di atas ^__^), bahwa manusia pada dasarnya lebih peduli pada kejadian yang menyangkut dirinya. Misalnya, luka di jarinya atau sakit hatinya bisa membuatnya tak tidur semalaman sementara bencana yang memakan korban jutaan di provinsi lain misalnya tidak sampai membuatnya demikian. Jadi memang perlu meningkatkan tingkat kesadaran diri, mengaitkan hal2 baik di luar sana menjadi pemberdayaan diri ya kak …

    Ttg mengubah representasi internal … saya pernah membaca ada orang yang bisa melahirkan normal tanpa merasa sakit sama sekali. Hebat ya .. istri Dede Yusuf, salah satunya. Ada malah yang saat melahirkan bisa merasakan – maaf – orgasme … fantastis ya. Jadi sebenarnya kekuatan pikiran kita bisa tak terbatas kalau benar2 mau diusahakan ya kak …

    Buku yang bagus. Sy suka buku2 seperti ini :)
    Kayaknya selera buku kita mirip nih kak Evi.

    Oya, kak Evi manggil saya “Niar” saja ya biar lebih akrab 😀

    Reply

    1. Terima kasih Niar.. Memang perlu banyak rangsangan moral dari luar agar sesekali kita meninggalkan inner representasi, biar mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain..Tapi yah ini butuh perjuangan yang berat..Makanya tidak semua dari kita subscribe kedalamnya…

      Senang saya punya teman seide..Kalau dekat kita bisa tukar-tukaran buku ya..

      Reply

    1. Kontrol emosi memerlukan peningkatan kesadaran Mas..Iya semoga saya dan teman-teman bisa ya..

      Reply

    1. Sang bayang, optimis itu adalah ketika kita mengatakan akan hujan kala menangkap gelap diujung langit. Kala mencium kedatangan angin utara lewat kuncup mawar yg tersibak. Kala kepak sayap kelibri menyibak angin, membawa duka keatas Himalya…

      Hahaha..gimana sang bayang? Itu bukan optimis?

      Reply

  6. Terima kasih mbak Evi…jadi sedikit tahu alasan atas sikap kita yg beda menghadapi situasi yg sama… hm..mesti banyak latihan ya… hayuuk deh.. :)

    Reply

    1. Mari Mbak Mechta..asal kita mau berlatih..lama-lama peka membaca inner representasi kita sendiri :)

      Reply

  7. membayangkan sesuatu dalam benak kita sangat mempenaruhi perilaku kita itu benar mbak evi. he he mengapa bahasa agama tak membolehkan kita berprasangka dulu. seperti saya paling tidak nyaman kalau mau bertemu dengan orang-orang yang ada berkaitan dengan masalah birokrasi. akibat membayang “orang birokrasi itu jutek” maka kalau saya berkomunikasi dengan mereka kalau tak kutata hatiku lisan saya tidak lancar berbicara, salalu salah tingkah.

    Reply

    1. Betul Mbak Min. Karena realita bermula dari pikiran, maka apa yg kita hadapi dalam hidup adalah akibat keputusan yg kita ambil dari dalam pikiran. Makanya penting sangat mendidik pikiran ini ya :)

      Reply

  8. Seperti ketika menghadapi phobia, sulit mengatasinya tanpa latihan. Ketika berhasil, wuiiih bahagianya itu tidak terkira. Mengubah cara pandang… Saya senang dapat motivasi. Terima kasih selalu. :-)

    Reply

    1. Hehehe..Sama-sama, terima kasih juga dari aku Mbak Lia :)

      Reply

  9. terimakasih Evi utk tulisan motivasi yg sangat bermanfaat ini :)
    bagi bunda saat ini memang susah sangat utk terus mencoba mengubah mind set…………masih saja pikiran ini banyak pertanyaan2 yang sebenarnya sudah bisa dijawab sendiri ….
    mendidik pikiran kita bukan pekerjaan mudah ya Vi, harus rajin dilatih dan langsung juga dipraktekkan, gak cuma sekedar teori ….
    sekali lagi terimakasih Evi :)
    salam

    Reply

    1. Bun, pada suatu cerita sufi aku pernah membaca, bahwa pikiran kita adalah anjing-anjing yang dikerangkeng di kandang. Anjing2 itu punya kemauan sendiri. Maka tugas kita sebagai tuan adalah melatihnya mengikuti jalan yg kita mau dan gariskan. Sekali anjing dilepas bakal sulit menangkapnya kembali..Tapi begitu anjing itu jinak,mau mengikuti apa yang kita mau, saat itu lah pintu pemberdayaan terbuka..Kita bisa jadi seseorang yg kita inginkan..

      Begitu Bun, analoginya :)

      Reply

  10. Wah mantep mantep…
    Kadang aku juga udah ketakutan gara-gara pikiranku sendiri,
    padahal nek wis dilakoni yo rapopo hihihi…
    Cool postnya, motivatif banget!

    Reply

Ada komentar, kawan?