52 Comments


  1. gunung kidul sekarang sudah ga seperti dulu
    daerahnya sudah maju dan ijo royoroyo
    dulu asal dengar kata gunung kidul
    yapng pertama kepikiran adalah gunung gersang dan penduduk yang makannya gaplek

    Reply

    1. Betul Mas Rawins, sekarang gunkid sdh hijau. Tapi sayang orang makan gaplek masih identik dngnn kemiskinan. Padahal dan seharusnya kita anggap sbg keragaman pangan :)

      Reply

      1. kayaknya susah bu
        budaya atau asumsi yang namanya makan harus nasi kayaknya melekat terlalu kuat
        padahal mungkin itu cuma sugesti…

        Reply

        1. Iya Mas, itu berkat kebijakan pertanian di masa lalu bahwa makanan yg lawak adalah nasi. Jd kalau gak makan nasi sbg sumber karbohidrat dianggap miskin. Akibatnya gaplek, thiwul dan gsthot sekarang berubah sbg cemilan doang :)

          Reply

  2. kalau aku rada takut pasang topeng jadi pajangan rumah. Seren aja gitu lihatnya >.<

    Mudah2an gudungkidul selalu jaya dan terus maju deh yak :)

    Reply

    1. apa lagi kalau lagi pas mati lampu, yang tampak bayang-bayang gimana gitu ya Mbak Niee..

      Reply
  3. uni

    mba Evi hobi traveling ya? :)
    ih seru ya blusuan ke gunung kidul, aku belum pernah kesana mba :)
    thanks for sharing :)

    Reply

    1. Senang Mbak Uni..Apa lagi kalau ada yg bayarin hehehe..Semoga lain kali mampir ke Gunungkidul ya Uni..:)

      Reply

    1. Yah, bakpia dari daerah sini belum ada yg ngalahin ketenarannya :)

      Reply

  4. Dirimu ternyata salah satu pemenang Jelajah Gizi ya, senangnya :)
    Tadinya aku mau ikut juga, tapi lupa posting karena harus bolak balik rumah sakit.
    Senang ya jalan-jalannya, dapat banyak info menarik.

    Reply

    1. Iya Mb Indah, banyak sekali pengalaman yg akuu alami saat jelajah gizi kemarin. Yah maklum kalau gak bisa berparti sipasi Mbak, Merawat bunda yg sdg sakit kan butuh konsentrasi :)

      Reply
  5. aqomadin

    berapa duit harga rerata topengnya mbak?
    reportasenya bagus, kyk yg di tipi-tipi :)

    Reply

    1. Aku gak bell Mas dan gak sempatnpula nanya harga. Yang aku beli sebuah baki batik dan harganya 60rb :)

      Reply

    1. Iya Kang, dirawut dan dilukis satu persatu pakai tangan

      Reply
  6. applausr

    kayaknya besok desember ketika ke yogya harus memampirkan diri kesini nih… luar biasa tempatnya…

    Reply

    1. Betul Bro, mesti disempatin datang kesini..banyak kisah yg bisa digali di Bobung :)

      Reply

  7. Kak Evi sering banget nulis liputan kayak gini ya… sudah punya banyak barang koleksi dari tempat2 yang dikunjungi dong? :) Foto2nya juga bagus2 …. gabung di log viva.co.id atau di lintas.me, biar pengunjungnya tambah banyak. Sepertinya tulisan model begini cepat mereka approve …

    Reply

    1. Hehe…Makasi Niar. Aku sdh bergabung di Viva Log dan benar mereka cukup ramah padaku. Pernah suatu ketika tiga tulisan mereka approve sekaligus, yg bikin blogku jd crashed karena terkejut terima ratusan kunjungan secara mendadak. Nah gara2 itu bandwithnya aku ditambah sama Adit. Di lintasme jg sdh bergabung, namun tampaknya traffic dr Viva jauh lbh bagus. Makasih ya Niar :)

      Reply

  8. mbak evi.. liputannya keren banget
    jadi makin pengen pulkam
    serius lho mbak.. aku jd malu kalo pulkam biasanya cuma ngendon di kaki Gn Merapi doang.. ga kemana-mana..

    Reply

    1. Makasih Mbak Hilsya..Jadi besok kalau pulkam lagi, siapkan camera dan jalan-jalan kepelosok kampung dong ya..hehehe…

      Reply

  9. Keren Uni, terima kasih berbagi kekayaan budaya Nusantara, benar2 jadi bekal blusukan nih. Wawasan diversifikasi pangan beralaskan kearifan lokal. Salam

    Reply

    1. Iya Mbak Prih, budaya kita amat kaya. Pandai-pandainya kita saja agar mereka tetap lestari dan kalau bisa berkembang, sebagai warisan bagi anak cucuk kelak :)

      Reply
  10. DjangKies

    tulisan Njenengan selalu bikin saya pingin mengunjungi tempat-tempat seperti itu, apalagi gunung kidul belum sekalipun pernah saya jamah. Wawasan saya tentang gung kidul hanya saya dapatkan dari tulisan teman-teman dan tayangan TV. Dan sepertinya Gunung Kidul telah mengalami banyak perubahan positip.
    Topeng batiknya sangat keren, memiliki nilai jual dan seni yang jempol

    Reply

    1. Iya Pakies, gunungkidul mulai meninggalkan brandingnya yang serba kekurangan. Walau batu-batu kapur masih banyak disana, tapi alam dan cara berpikir manusianya membalik keadaan, dari miskin jadi cukup makmur. Terima kasih Pakies..:)

      Reply

    1. Alam selalu memanggil bagian anggota tubuhnya . Karena kita adalah anggota tubuhnya, yah gak aneh sih Mas kalau kita selalu kangen padanya..:)

      Reply

  11. Waktu nonton acara semacam reality show asal Amerika berjudul Clean House, hampir mirip bedah rumah gitu lah, ada beberapa hiasan dinding berupa topeng yang mereka beli di toko. Dan hiasan itu mirip sekali dengan yang diproduksi oleh penduduk desa ini. Mantap bener lah, ternyata kerajinan lokal udah muncul di dunia internasional. Maju terus!!

    Reply

    1. Mungkin topeng2 tersebut berasal dari Bobung, Fier..Sebab Amerika adalah tujuan ekspor mereka :)

      Reply
  12. Andrekocak Blog

    Wihh Bermafaat Banget Tuh ^_^ ..
    Jgn Lupa Mampir Ke Blog saya..
    Salam Blogwalker

    Reply
  13. Tina Latief

    kayu yang dipakai kayu apa ya bun?
    masyarakat di sana sepertinya bisa membaca peluang usaha lain daripada harus bertani..

    Reply

    1. Kayu Pulai dan Albasia, Tina. Iya Tin, mereka rupanya lbh suka mengembangkan seni ketimbang bertani
      Mungkin hasilnya lbh bagus :)

      Reply

  14. Waah…kreasi seni yang jadi penunjang utama hidup masy Bobung ya mbak… turut bangga :)

    Reply

    1. Iya Mbak Mechta..Sebagai penanda juga Gunungkidul bisa bangkit walau tak mengandalkan sumber daya alam :)

      Reply

  15. Topeng yang sangat cantik dan yang saya salut, jika dilihat dari foto-foto di atas, para Ibu di sana pun terampil membuatnya ya Mbak Vi… :-)

    Reply

    1. Memang Mbak Lia, para ibu di Bobung sangat terampil membentuk topeng batik ini. Kalaupun kurang terampil melukis batiknya, bagian tugas tersebut dibagikan kepada yang lebih ahli. Kerja sama itu lekat banget Mbak :)

      Reply

  16. Topengnya indah Mba Evi, pantas kalo banyak yang suka. Bobung ya Mba, semoga bisa kapan-kapan jalan ke sana.. 😀

    Reply
  17. berita gresik dan jawa timur

    Makasih infonya Gan…salam kenal…

    Reply

    1. Sama-sama terima kasih kembali. Dan salam kenal juga…

      Reply
  18. Desio Isanov

    Terimakasih atas kunjungannya ke blog saya dan hadiah “like” di foto Rona Langit, saya merasa tersanjung sekali. Saya baru membaca tulisan Eksotisme Gunung Kidul 4 dan kagum sekali akan kata-katanya yang mengalir natural sehingga mudah dicerna. Foto-foto yang ada disana pun tak kalah indahnya.
    Sukses selalu dan teruslah berkarya, insyaAllah saya kan baca seluruh tulisan yang ada di blog ini. Salam kenal dari saya

    Reply

    1. Terima kasih sangat atas komentarnya yang bikin saya terbang ke langit ke-7 Pak Desio…Terima kasih atas doanya. Semoga Bapak juga terus diberi kekuatan oleh Allah untuk terus berkarya. Amin

      Reply

  19. Sunan kalijaga memang keren, selain menyebarkan agama juga meninggalkan warisan budaya bagi masyarakat.
    ulasan mas Evi juga keren banget mengungkap sisi lain gunung Kidul 😀

    Reply

  20. sudah lama aku mendengar dan membaca keindahan potnsi wisata di Gunungkidul, namun sayang sampai saat ini belum bisa kesampaian berwisata ke kawasan tersebut, jadi penasaran pengen cepet2 bisa ke sana..

    Reply

  21. WEW…. 3 milyar per tahun..??
    luar biasa memang budaya kita, masyarakat pedesaan pun bisa sejahtera hanya dengan melestarikan budaya lokal. ayo kita lestarikan budaya Indonesia.

    Reply

Ada komentar, kawan?