32 Comments


  1. Wkt aku bikin acara syukuran ky gini, ibu2 pengajian nya ga ada yg bawa rebana ky gini, pdhl aku pengen ada rebana nya tp drmh ku ga ada yg pk itu huhuhu. Kynya seru aja gt yah Mba klo ada rebana nya, jd tambah meriah hehehehhehe

    Reply

    1. Iya Mbak Yeye, acaranya jadi tambah seru pakai musik dan lagu padang pasir hehehe..

      Reply
  2. RZ Hakim

    Kalau nggak baca artikel ini, mungkin saya masih berpikir antara tingkepan dan walimatul hamli itu beda Mbak, haha..

    Reply

    1. Hehehe..Yang satu bahasa arab dan satunya lagi bahasa jawa. Beda disitu saja kok, Mas Hakim…

      Reply
  3. LJ

    sewaktu di bandung aku sering juga menghadiri syukuran 4 atau 7 bulanan.. acaranya seperti yang uni paparkan di atas, cukup meriah.. sedangkan di kampung kita boleh dibilang gak ada acara semacam itu ya uni.. nanti saat bayi sudah lahir saja, acara turun mandi.

    Reply

    1. Iya May orang kampung kita praktis banget ya…Padahal kalau baca literatur dahulu ada lho acara nujuh bulan. Itu yang pakai mengguling-gulingkan telur bebek ke dalam minyak, yang maksudnya agar kelahiran nanti lancar. Tapi seumur hidup aku emang gak pernah menyaksikan langsung..:)

      Reply
      1. vizon

        Saya pernah dengar kalau di kampung kita ada tradisi “mambubua” (lebih kurang begitu namanya). Yakni tradisi memasakkan bubur labu untuk anggota keluarga yang sedang hamil. Saya tidak tahu persis seperti apa acaranya, sebab kami belum pernah mengalaminya. Maklum, kelamaan tinggal di rantau, hehe…

        Apakah Bundo atau Uni pernah mendengar soal tradisi ini?

        Reply

        1. Sekarang ingat, memang pernah mendengar soal tradisi mambubua, Nyiak..Tapi hilang timbul juga sih karena tak pernah melihatnya langsung. Kayaknya pernah baca di majalah wanita

          Reply

  4. wah… baru tahu tentang acara seperti ini. terima kasih mba atas sharingnya.

    Reply

    1. Wah aku juga senang bisa sharing dan nambah pengetahuan kalau gitu Mas Ryan. Makasih kembali ya..

      Reply

  5. ha ha.. seru juga itu, si pedas ketemu si manis.
    BTW aku belum pernah melihat musik rebana langsung lho Mbak Evi..

    Reply

    1. Betul Mbak Dani, lidah kami jadi menyesuaikan diri pada rasa nano-nano. Semoga kelak ada arakan penganten sunat betawi berjumpa dengan dirimu. Karena biasanya mereka diarak dengan rebana ketimpring ini..

      Reply

  6. Dari semua proses acara seperti ini, saya hanya bisa menyimpulkan secara sederhana. Dengan kita melakukan shodaqoh maka kita akan diberikan kelancaran dan kemudahan serta keselamatam. Adapun pernak-pernik didalamnya memuat syiar pembelajaran yang diambil dari kebiaasaan masyarakat dan sunah seperti penyemprotan dengan minyak wangi.

    Tapi,,,,,, kenapa jadi kangen dengan rujaknya ya Mba. Ha,,,, ha,,, ha,,,,,

    Salam wisata

    Reply

    1. Shadaqoh bukan lah harta yang pergi begitu saja ya Pak Indra. Tapi ibarat menanam padi. Benihnya yang sedikit akan memanen hasil yang lebih besar..

      Ngomong2 nanti siang silahkan dinikmati rujaknya Pak Indra, biar hilang kangennya..

      Reply

  7. semoga anak yang dikandung kelak bisa lahir sehat…dan bahagia selamanya, serta berguna bagi agama dan kedua orang tuanya….salam :-)

    Reply

  8. saya juga sepakat mbak. Pedas atau ga pedas itu tergantung jumlah cabe dan selera yang menikmatinya saja

    Reply

    1. Kalau cabe sedang mahal, ada kemungkinan anak yang akan lahir cewek ya, Mbak Nanik :)

      Reply

  9. acaranya meriah ya bu …
    menu makanannya juga lengkap, ada pedas dan manis … 😀
    semoga sang keponakan kehamilannya bisa lancar sampai melahirkan …

    Reply

    1. Acara ibu-ibu memang selalu meriah, Mas Hindri. Maklum mulutnya banyak hehehe..Amin. Terima kasih atas doanya :)

      Reply

  10. pengucapan syukur mengawal kehamilan, dan betapa sejak dalam kandungan buah hati dibuai lafal doa ya Uni Evi, semoga kehamilan hingga persalinannya lancar. Salam

    Reply

    1. Iya betul Mbak Prih. Menggantungkan harapan terbaik kepada sang pencipta. Amin. Makasih doanya, Mbak :)

      Reply

    1. Bhineka tunggal ika, Jeng Lis. Amin. Makasih doanya :)

      Reply

  11. acaranya lengkap ya bun, kalau saya biasanya hanya pengajian biasa saja. Smeoga lancar ya kehamilannya sampai melahirkan nanti

    Reply

    1. Kayaknya ibu-ibu ini emang niat banget agar acaranya berlangsung seru tapi khusuk, Mbak Lid…:)

      Reply

  12. di kampungku sana namanya mitoni mbak, ada rujak dan ketan kuningnya juga 😛

    Reply

    1. Sepertinya walimatul hamli ini emang banyak mengambil tata laku dari mitoni atau tingkepan dalam bahasa Jawa itu, Mbak El :)

      Reply
  13. bintangtimur

    Jadi inget waktu saya selamatan 7 bulan pas hamil Risa dulu, mbak…
    Kalo dipikir-pikir rasanya waktu cepet sekali berlalu.
    Dulu, saya menggunakan adat Jawa, alasannya sederhana, karena kami tinggal di kota Malang yang kental sekali dengan budaya Jawa 😀

    Reply

    1. Ibarat peribahasa dimana bumi dipijak disana langit di junjung ya, Mbak Irma. Tinggal di pulau Jawa, sedikit banyak adat jawa lah yg dipakai :)

      Reply

Ada komentar, kawan?