
Sobat Arenga, coba perhatikan foto di atas.
Tampak seorang bapak sedang serius membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas. Ini bukan sekadar formalitas administrasi biasa. Tanda tangan tersebut adalah simbol komitmen, sebuah janji suci antara petani dan alam.
Bapak ini adalah salah satu anggota kelompok mitra yang sejak awal terlibat dalam kerja besar ini. Beliau menyatakan kesediaannya mematuhi aturan ketat produksi organik di bawah koordinasi CV. Diva Maju Bersama. Inilah wajah asli dari proyek gula aren organik Arenga Indonesia.
Audit dilakukan sekali setahun. Kontrak diperbarui setiap tahun juga. Semua ini demi memastikan satu hal: integritas produk yang sampai ke tangan Sobat Arenga semua.
Pentingnya Sistem Ketelusuran dalam Proyek Organik
Mengapa proses ini begitu rumit?
Sobat Arenga, sistem organik bukan hanya soal “bebas pestisida”. Menurut International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM), pertanian organik harus melandaskan diri pada empat prinsip dasar: Kesehatan, Ekologi, Keadilan, dan Perlindungan.
Dalam proyek gula aren organik Arenga Indonesia, kami menerjemahkan prinsip-prinsip luhur tersebut ke dalam tindakan teknis di lapangan. Salah satu pilar utamanya adalah sistem ketelusuran dalam proyek organik atau traceability.
Para ahli pangan global sepakat bahwa tanpa ketelusuran, klaim organik hanyalah omong kosong. Kami harus bisa membuktikan perjalanan sebutir gula semut atau setetes gula aren cair. Mulai dari pohon nira mana ia disadap, siapa petaninya, kapan dimasak, hingga masuk ke gudang penyimpanan.
Dokumentasi adalah bukti hukumnya. Inilah yang disebut sebagai Chain of Custody (Rantai Jaga). Jika ada satu mata rantai yang putus atau tidak tercatat, maka status organiknya gugur.
Baca juga:
Tantangan Kertas dan Pulpen bagi Kelompok Mitra
Menerapkan sistem ketelusuran dalam proyek organik terdengar ideal di atas kertas, namun pelaksanaannya di lapangan penuh dinamika.
Tantangan terberat kami bukan pada hama atau cuaca, melainkan pada “kertas dan pulpen”. Harus diakui, mengenalkan budaya mencatat kepada para perajin gula aren bukanlah pekerjaan mudah.
Kelompok mitra kami adalah para perajin tangguh yang terbiasa bekerja merdeka di hutan. Tangan mereka lebih akrab memegang golok penyadap daripada pena. Bagi mereka, memori di kepala sudah cukup.
“Ngapain pakai dicatat segala? Toh kami sudah melihat sendiri prosesnya. Tanpa mencatat pun gula kami laku,” begitu protes yang sering terdengar di awal proyek gula aren organik Arenga Indonesia ini berjalan.
Bayangkan kerepotan mereka. Mereka harus menyadap nira, memanjat pohon tinggi, memasak berjam-jam di dapur yang panas, dan di saat bersamaan harus mengisi formulir harian layaknya buku harian sekolah. Ini adalah benturan budaya kerja yang nyata.
Transformasi Menuju Petani Cerdas Data
Perubahan butuh waktu. Kami melakukan pendekatan personal yang intensif.
Kami jelaskan bahwa proyek gula aren organik Arenga Indonesia ini bertujuan mengangkat derajat produk mereka. Pasar global menuntut transparansi. Data yang mereka tulis adalah “tiket” agar gula aren mereka bisa terbang lebih jauh dan dihargai lebih tinggi.
Penerimaan dan penolakan datang silih berganti. Perdebatan keras soal persepsi sering terjadi. Namun, perlahan tapi pasti, kelompok mitra mulai mengerti.
Mereka menyadari bahwa dokumentasi bukan beban, melainkan pelindung. Dengan data yang rapi, kualitas produk mereka terlindungi dari klaim palsu pihak luar. Kini, kertas dan pulpen telah menjadi senjata baru mereka, bersanding dengan golok dan wajan, demi menghasilkan Gula Aren Arenga yang Sobat nikmati hari ini.
eviindrawanto.com
