Selamat ultah ke-20 putra sulungku, sebuah kalimat yang terasa begitu berat sekaligus manis saat saya tuliskan di blog ini.
Halo Sobat JEI, jujur saja, saya sempat bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Hubungan kami yang saling membutuhkan terkadang membuat mata saya buta untuk memilah poin-poin penting.
Ada sedikit rasa enggan karena saya tak rela momen privat ini meluncur bebas ke ranah publik. Namun, setiap orang tua pasti mencintai anaknya, terlepas dari bagaimana cara mereka mengekspresikannya.
Menariknya, merayakan ulang tahun lewat tulisan adalah cara saya mensyukuri karunia Allah SWT. Berdasarkan riset psikologi perkembangan, menuliskan memori positif dapat memperkuat maternal bonding atau ikatan batin antara ibu dan anak.
Oleh karena itu, selagi jemari ini masih mampu menari di atas kibor, catatan untuk Adit akan selalu hadir sebagai perayaan kecil bagi diri saya pribadi.
Drama Vakum dan Selamat Ultah ke-20 Putra Sulungku
Bayi ini dahulu dipaksa keluar melalui mesin vakum oleh Dokter Kayanto di RS Harapan Bunda Kramat Jati. Kejadian itu berlangsung tepat pada subuh tanggal 30 November 1992.
Fakta medis menunjukkan bahwa ekstraksi vakum biasanya dilakukan saat persalinan macet untuk membantu bayi lahir dengan aman. Meskipun terdengar dramatis, pengalaman “pecah telor” ini mengubah total cara pandang saya tentang cinta.
Makhluk dengan kulit gelap namun mulus dan mata sipit itu langsung meruntuhkan egoisme saya. Saya masih ingat betul betapa gigihnya Adit saat menyusu untuk pertama kalinya. Walaupun air susu masih sedikit, ia mengerahkan seluruh tenaga hingga tubuhnya berkeringat dari ubun-ubun sampai telapak kaki.
Waktu itu kuatir banget. Takut Adit kesakitan. Tapi ternyata, keringat pada bayi saat menyusu adalah hal wajar karena aktivitas tersebut setara dengan olahraga berat bagi mereka.
Intuisi vs Teori Parenting
Sobat JEI, saya harus mengakui bahwa sejak awal saya tidak pernah mengindahkan teori-teori parenting kaku. Sebagai buktinya, saya jarang membaca majalah Ayah-Bunda atau mengoleksi buku pola asuh. Saya lebih suka mengikuti intuisi ibu yang tajam ketimbang terpengaruh standar orang lain.
Misalnya, saat banyak orang menyarankan jadwal menyusu yang disiplin, pikiran saya hanya satu: “Persetan dengan disiplin, anak saya sedang lapar!”
Riset dari University of Hertfordshire menunjukkan bahwa ibu yang mengikuti intuisi cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah. Tentu saja, keterikatan seumur hidup ini adalah sesuatu yang tak kuasa ditolak oleh siapa pun. Ada sidik jari Sang Pencipta dalam hubungan unik ini. Suka atau tidak, kehadiran bayi dalam rahim membuat seluruh perangkat tubuh perempuan menyesuaikan diri secara otomatis.
Selamat Ultah ke-20 Putra Sulungku yang Berjuang Jadi Dokter
Kini, bayi mungil itu sudah berubah menjadi pemuda berusia 20 tahun. Adit mengisi hari-harinya dengan belajar keras agar bisa lulus menjadi dokter tepat waktu. Saya tahu motivasinya sangat mulia, yakni ingin menjadi dokter pintar yang tidak membahayakan pasien.
Selain itu, ia juga sangat perhatian karena tidak ingin membebani orang tua dengan biaya tambahan akibat keterlambatan studi.
Menjalani pendidikan kedokteran memang bukan perkara mudah karena membutuhkan resiliensi yang sangat tinggi. Namun, melihat kegigihannya, saya yakin ia akan mampu melaluinya dengan baik. Saya sangat menghargai tekadnya untuk memberikan yang terbaik bagi sesama di masa depan nanti.
Maaf dan Cinta untuk Adit
Sobat JEI, saya sadar betul bahwa saya bukanlah mama yang sempurna. Saya hanya manusia biasa yang sering kali mengecewakan atau bertindak tidak sesuai dengan garis keibuan yang ideal. Untuk segala kekurangan itu, mohon dimaafkan ya, Dit. Mama akan selalu belajar untuk menjadi pendukung terbaik bagi setiap langkahmu.
Akhir kata, selamat menempuh usia baru dengan penuh keberanian dan kasih sayang. Semoga setiap impianmu menjadi dokter yang amanah dapat segera terwujud. Sekali lagi, selamat ultah ke-20 putra sulungku.

Banyak cinta,
@eviindrawanto2026
Baca juga:


