Ringkasan
Lokasi Unik & Magis: Makam terletak di Pulau Nusa Gede (Nusa Larangan) di tengah Situ Lengkong Panjalu yang dikelilingi air berwarna kehijauan dan rimbun pepohonan.
Wajah Baru Pasca-Revitalisasi: Kawasan wisata ini telah mengalami perbaikan fasilitas (dermaga dan area sekitar) berkat dukungan Pemprov Jabar, namun tetap mempertahankan nuansa alaminya.
Update Harga Tiket & Perahu:
Tiket Masuk: Rp 7.500 – Rp 8.000 per orang.
Perahu Penyeberangan: Rp 15.000 – Rp 20.000 per orang (atau Rp 250.000 – Rp 300.000 untuk carter).
Legenda yang Hidup: Keberadaan ribuan kelelawar (kalong) yang dipercaya sebagai pasukan penjaga makam, serta gapura berikon Harimau (Maung) Kembar yang sarat mitos sejarah.
Tantangan Fisik: Akses menuju makam utama harus melewati anak tangga yang cukup tinggi dan banyak, sehingga membutuhkan stamina yang fit (bikin ngos-ngosan).
Wisata Religi & Sejarah: Tempat ini bukan sekadar wisata alam, melainkan napak tilas penyebaran Islam di Pasundan sesuai catatan Babad Panjalu.

Makam Prabu Hariang Kancana atau Mbah Panjalu masih menjadi tempat peristirahatan terakhir yang paling dicari para peziarah di tanah Pasundan. Bayangkan saja, jasad seorang penyiar agama Islam legendaris ini tertanam di sebuah pulau kecil bernama Nusa Gede. Pulau ini penuh dengan rerimbunan pohon tinggi yang dahan-dahannya digelayuti ratusan kelelawar atau kalong.
Pemandangan semakin teduh karena dikelilingi oleh Situ Lengkong Panjalu, danau dengan air yang kadang memantulkan warna kehijauan, mengitari pulau yang juga dikenal sebagai Nusa Larangan ini. Konon, menurut Babad Panjalu, air situ ini berasal dari tumpahan air zam-zam yang dibawa dari Mekah, sehingga warnanya bak zamrud. Dipagar oleh bukit Pasir Jambu di sekelilingnya, tempat ziarah ini tak pernah sepi, bahkan kini wajahnya telah bersolek.
Menyeberang ke Nusa Gede: Revitalisasi dan Harga Baru
Untuk sampai ke makam putra dari Prabu Sanghyang Cakradewa (Raja Panjalu pertama yang memeluk Islam) ini, wisatawan dan peziarah tetap harus menyeberang dari daratan Panjalu, Ciamis. Namun, ada yang berbeda beberapa tahun terakhir. Kawasan ini telah mengalami revitalisasi besar-besaran yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Wajah dermaga kini lebih rapi, meski aroma “proyek” masih terasa di beberapa sudut.
Kita masih menggunakan perahu kayuh atau perahu motor untuk menyeberang. Sistem gilirannya pun masih berlaku sebagai bentuk pembagian rezeki yang adil antar pemilik perahu.
Nah, soal biaya, tentu ada penyesuaian zaman. Jika dulu harganya sangat murah, kini tiket masuk kawasan wisata dibanderol sekitar Rp 7.500 – Rp 8.000 per orang. Untuk menyeberang, tarif perahu perorangan kini berkisar Rp 15.000 – Rp 20.000. Jika datang berombongan, menyewa satu perahu (carter) bisa memakan biaya antara Rp 250.000 hingga Rp 300.000. Sedikit lebih mahal, tapi sebanding dengan fasilitas yang perlahan membaik.
Nusa Gede berada tepat di tengah Situ Lengkong. Jadi, perahu akan mengantar pengunjung memutari pulau seluas ribuan hektar itu (yang kini luasnya terasa semakin padat oleh vegetasi) searah jarum jam. Jalur pergi dan pulang tetap tidak sama, sebuah tradisi navigasi yang dipertahankan.
Atraksi Alam dan “Pasukan” Penjaga
Sepanjang perjalanan di bekas pusat kerajaan Panjalu ini, mata tetap dihibur oleh atraksi alam yang magis. View ke perkampungan berlatar belakang perbukitan Pasir Jambu masih menyegarkan mata.
Kala telinga mendengar kecipak dayung atau deru mesin perahu membelah air, mata kita akan terpaku pada kelelawar yang bergantungan di pohon. Jumlahnya? Masih banyak sekali! Bahkan di senja hari, mereka terbang saling silang bak sedang menari. Legenda yang hidup di masyarakat menyebut para kelelawar ini adalah penjelmaan prajurit Kerajaan Panjalu yang bersumpah setia menjaga makam sang junjungan, Prabu Hariang Kancana.
Di tepi Situ Lengkong, tanaman air seperti teratai kadang masih terlihat mencuat, memberi warna merah jambu yang kontras dengan hijau zamrud air danau. Tak sampai 15 menit, kita pun tiba di dermaga Nusa Gede yang kini terlihat lebih kokoh.
Baca juga tempat ziarah di Jawa Tengah  Makam Sunan Muria di Gunung Muria
Gerbang Maung dan Tangga yang Masih Bikin “Ngos-ngosan”
Naik ke dermaga, kita disambut gapura yang menjadi ikon tempat ini. Prasasti dan simbol harimau (maung) kembar masih setia menyambut peziarah. Dua fauna ini terkait erat dengan mitos sejarah kerajaan Panjalu. Konon, mereka adalah jelmaan dua anak Prabu Brawijaya dari Majapahit yang tersesat dan melanggar pantangan, hingga akhirnya dihukum menjaga hutan ini selamanya.
Menuju makam, kita harus melewati anak tangga. Meski kawasan ini sudah direvitalisasi, tangganya tetaplah tantangan tersendiri! Jumlah anak tangganya cukup banyak dan sukses membuat napas ngos-ngosan. Tangga dan sarana di sini memang pernah dibangun besar-besaran semasa era Gus Dur, dan kini mendapat sentuhan perbaikan baru agar lebih nyaman bagi ribuan peziarah.
Baca juga tempat ziarah di Cirebon  Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat
Suasana Mistis dan Khusyuk
Sampai di ujung tangga, suasana biasanya sudah padat manusia, terutama di bulan-bulan besar Islam seperti Maulud atau menjelang Ramadan. Jika tidak bisa masuk ke bangunan utama makam karena sesak, banyak peziarah yang menggelar doa di area pelataran atau gazebo yang tersedia.
Kekaguman seringkali muncul melihat ketakziman peziarah berdoa. Aura mistis tempat ini memang kuat. Ditambah dengung doa dan selawat yang tak putus-putus, serta cahaya matahari yang samar menembus rimbunnya pepohonan tua, bohong saja kalau bulu kuduk tidak merinding. Bukan karena takut, tapi karena nuansa spiritual yang begitu kental.
Bagi yang penasaran, kawasan ziarah ini sebenarnya buka 24 jam, namun loket wisata resmi biasanya beroperasi dari pagi hingga sore (sekitar pukul 08.00 – 17.00 WIB). Jika datang malam hari, suasananya jauh lebih hening dan gelap, hanya ditemani suara fauna malam dan debur air danau.
Baca juga tempat ziarah di Tasikmalaya   Goa Safarwadi Pamijahan
Menggali Hikmah dari Babad Panjalu
Ziarah ke makam Mbah Panjalu bukan sekadar wisata religi, tapi juga napak tilas sejarah. Seperti yang tertulis dalam Babad Panjalu, naskah kesusastraan Sunda kuno yang merekam jejak Prabu Hariang Kancana. Sastra bukan hanya seni, tapi dokumen sosial yang merefleksikan realitas zamannya.
Bagi teman-teman yang tertarik sejarah, kisah Prabu Hariang Kancana mengajarkan tentang tata pemerintahan, agama, hingga adat istiadat yang luhur. Seperti pupuh Asmarandana dalam babad tersebut yang menggambarkan kesuburan tanah Panjalu:
Eukeur musim sarwa jadi Pepelakan rupa-rupa…
Tanah yang subur, sejarah yang agung, dan suasana yang menenangkan hati. Itulah Panjalu.
Jadi, kapan giliranmu menyeberang ke Nusa Gede dan menyapa “para penjaga” Mbah Panjalu?
Baca juga:




