
Key Takeaways
- Pekalongan menyimpan kekayaan sejarah dan keindahan arsitektur, terutama gedung tua pekalongan yang sering terlewatkan.
- Jalan Blimbing di kawasan Pecinan menawarkan pemandangan menarik gedung-gedung bersejarah dan narasi perdagangan masa lalu.
- Keanggunan Klenteng Po An Thian dan Gereja Santo Petrus mencerminkan harmoni antaragama di Pekalongan.
- Kawasan Budaya Jetayu menampilkan museum batik dan gedung bersejarah yang cocok untuk wisata heritage.
- Tips berfoto di wisata heritage Pekalongan: kunjungi saat pagi atau sore, pilih outfit cerah, dan hormati privasi pemilik gedung.
Pekalongan โ Sebelum berangkat ke Pekalongan, Jawa Tengah, saya iseng melempar tanya pada seorang kawan yang lahir dan besar di sana. “Apa sih yang menarik di Pekalongan selain batik?”
Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab ragu, “Kayaknya selain batik… nggak ada deh.”
Oooo.. tidak ada? Baiklah!
Namun, begitu kaki ini memijak tanah Kota Batik, barulah saya sadar betapa kelirunya pertanyaan saya tadi. Pekalongan itu ibarat wanita matang: anggun, berpengalaman, dan menyimpan beribu kisah yang tak tertulis di permukaan. Kota yang kini masuk dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO ini ternyata menyembunyikan “harta karun” bagi para pencinta sejarah dan fotografi.
Teman-teman, jika kalian berpikir Pekalongan hanya soal belanja daster dan sarung, mari saya ajak menyusuri sisi lain kota ini. Sisi yang penuh nostalgia, debu sejarah, dan keanggunan gedung tua Pekalongan yang memukau.
Keanggunan Kota Tua Pekalongan yang Tersembunyi
Bagi teman-teman penyuka wisata sejarah dan arsitektur lawas, Pekalongan adalah surga kecil yang sering terlewatkan. Kota yang menjadi penghubung jalur Pantura Jakarta-Semarang-Surabaya ini sedang giat memoles pariwisatanya.
Salah satu spot terbaik untuk menikmati lorong waktu ini terletak di Jalan Blimbing, tepat di jantung Kawasan Pecinan Pekalongan. Tempat ini saya temukan tanpa sengaja usai perut kenyang menyantap Kepiting Gemes Bung Kombor yang legendaris itu. Di sini, gedung-gedung tua saling berhadapan, berdiri kontras namun gagah di tepi jalan aspal yang mulus.
Menyusuri Jalan Blimbing: Nadi Perdagangan Masa Lalu
Kawasan ini dulunya dikenal sebagai Chinese-Wijk atau pemukiman Tionghoa yang menjadi pusat denyut nadi perdagangan. Saat berjalan di sini, rasanya seperti masuk ke set film klasik.
1. Misteri Rumah Walet Bergaya Indische
Salah satu eksotika gedung tua Pekalongan yang paling menyita perhatian saya berdiri persis di depan Rumah Makan Bung Kombor.
Bangunan ini berlantai dua dengan tembok cat putih yang mulai memudar, namun sisa-sisa kemegahannya masih terasa kuat. Jendela-jendela besarnya (krepyak) dan pintu kayu yang tinggi jelas menggambarkan gaya arsitektur Indische Empire yang tidak berasal dari masa kekinian.
Konon, dulunya ini adalah rumah saudagar kaya. Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan ekonomi, banyak bangunan cagar budaya seperti ini beralih fungsi menjadi rumah burung walet. Seorang kerabat bercerita, pemugaran bangunan seperti ini memerlukan izin khusus dan biaya besar, sehingga membiarkannya menjadi sarang walet seringkali menjadi pilihan paling pragmatis bagi pemiliknya.
Meski tak bisa masuk, fasad depannya saja sudah menjadi spot foto vintage yang sangat instagenic.
2. Segitiga Emas Toleransi: Klenteng Po An Thian & Gereja St. Petrus
Berjalan sedikit ke ujung Jalan Blimbing, saya menemukan bukti nyata mengapa Pekalongan layak disebut kota yang hangat. Di sini terdapat sebuah pemandangan langka yang menyejukkan hati.
Sebuah kelenteng tua, Klenteng Po An Thian, berdiri bersisian dengan Gereja Santo Petrus. Tak jauh dari sana, kubah kuning sebuah masjid menyembul di antara atap bangunan.
- Klenteng Po An Thian: Berdasarkan riset kecil saya, kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1882. Ia bukan sekadar tempat ibadah, tapi saksi bisu kedatangan leluhur Tionghoa ke Pekalongan. Ornamen naga dan warna merahnya yang menyala sangat kontras namun harmonis dengan lingkungan sekitar.
- Gereja Santo Petrus: Gereja Katolik ini memiliki arsitektur kolonial yang khas dengan dinding tebal dan langit-langit tinggi. Dibangun sekitar tahun 1930, gereja ini menjadi tetangga yang rukun bagi kelenteng di sebelahnya selama hampir satu abad.
Tiga tempat ibadah di satu ruas jalan ini menggambarkan harmonisasi antar pemeluk agama yang sangat indah. Ini adalah wujud nyata Bhineka Tunggal Ika yang sudah dipraktikkan warga Pekalongan jauh sebelum slogan itu sering didengungkan.
Jangan Lewatkan: Kawasan Budaya Jetayu
Jika teman-teman masih punya waktu, jangan hanya berhenti di Jalan Blimbing. Bergeraklah sedikit ke utara menuju Kawasan Budaya Jetayu. Jika Jalan Blimbing adalah representasi budaya peranakan, maka Jetayu adalah wajah Eropa-nya Pekalongan.
Di sini, teman-teman bisa menemukan:
- Museum Batik Pekalongan: Menempati gedung tua bekas kantor administrasi keuangan Belanda yang sangat megah.
- Kantor Pos Pekalongan: Gedung peninggalan VOC yang masih berfungsi hingga kini.
- Suasana alun-alun tua yang asri, sangat cocok untuk heritage walk di sore hari.
Tips Berburu Foto di Wisata Heritage Pekalongan
Agar perjalanan wisata masa lalu kalian di Pekalongan makin seru, berikut beberapa tips dari saya:
- Waktu Terbaik: Datanglah saat pagi hari (sekitar jam 7-9 pagi) atau sore hari (jam 4 sore). Cahaya mataharinya jatuh sempurna menyinari dinding-dinding bangunan kolonial, menciptakan efek dramatis untuk foto.
- Pakaian: Gunakan outfit berwarna cerah atau justru bergaya vintage agar kontras dengan latar gedung tua yang cenderung monokrom atau kecokelatan.
- Hormati Privasi: Ingat, beberapa gedung tua di Jalan Blimbing adalah properti pribadi atau tempat ibadah aktif. Mintalah izin jika ingin memotret terlalu dekat, dan jangan berisik saat berada di area ibadah.
- Kuliner: Setelah lelah berjalan, jangan lupa mampir ke warung kopi sekitar atau kembali menyantap seafood di Bung Kombor. Perut kenyang, hati senang!
Lain kali saya harus tinggal lebih lama di kota ini. Jalan menyusuri Kota Tua Pekalongan, mengagumi gedung-gedung tuanya, dan menggali lebih banyak cerita yang terkubur di balik tembok-tembok bisu itu.
Semoga segera terwujud!
Baca juga
Baca juga:

