
Masjid Agung Jawa Tengah sukses membuat saya terpukau bahkan sebelum kaki ini benar-benar melangkah di pelatarannya. Sobat JEI pasti setuju, foto-foto viral tempat ini memang menggoda. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa lokasi ini disebut Masjid Nabawi-nya Indonesia, sejarah unik tanah wakafnya, hingga pengalaman magis menikmati view Kota Semarang dari Menara Asmaul Husna. Tak ketinggalan, saya akan membocorkan mengapa tempat ini menjadi spot ngabuburit terbaik di Semarang.
Keindahan Arsitektur Masjid Nabawi-nya Indonesia
Saya sudah membaca banyak referensi, namun melihat langsung kemegahan ini tetap memberikan sensasi berbeda. Begitu sampai, arsitekturnya langsung menyihir mata.
Menurut pakar arsitektur, Ir. H. Ahmad Fanani, desain masjid ini memadukan tiga gaya sekaligus: Jawa, Romawi, dan Arab. Atap limasan mewakili budaya Jawa, sedangkan pilar-pilar raksasa di pelataran utama mengingatkan kita pada gaya Romawi di Koleseum.
Namun, daya tarik utamanya tentu saja enam payung hidrolik raksasa di pelataran utama. Payung-payung inilah yang membuat masyarakat menjulukinya sebagai Masjid Nabawi-nya Indonesia. Payung ini biasanya terbuka saat Salat Jumat, Idul Fitri, atau Idul Adha. Jika Sobat JEI datang saat payung ini mengembang, suasananya benar-benar membawa imajinasi kita terbang ke Madinah.
Sejarah Tanah Wakaf: Lebih dari Sekadar Bangunan
Perjalanan saya ke sini semakin kaya berkat cerita sopir sewaan kami. Ia paham betul sejarah pariwisata Semarang. Ia menceritakan hubungan historis antara Masjid Besar Kauman Semarang dengan Masjid Agung Jawa Tengah.
Saya melakukan deep research untuk memvalidasi cerita ini. Ternyata benar, lahan seluas 10 hektare ini berkaitan erat dengan pengembalian banda wakaf masjid Kauman yang sempat tak tentu rimbanya.
Sejarawan mencatat bahwa tanah ini merupakan hasil perjuangan panjang pengembalian aset wakaf yang sempat berpindah tangan. Akhirnya, di atas tanah yang kembali inilah berdiri simbol kebanggaan umat Islam Jawa Tengah. Sebuah kemenangan moral yang kini berwujud bangunan megah.
Spot Ngabuburit Terbaik di Semarang yang Syahdu
Saat saya tiba, langit senja mulai memudar. Adzan Magrib berkumandang syahdu. Lampu-lampu mulai menyala, memantul indah di lantai marmer.
Sobat JEI harus tahu, area ini bukan sekadar tempat shalat. Masjid Agung Jawa Tengah bertransformasi menjadi ruang sosial yang hidup. Saya melihat kelompok remaja berdiskusi di bawah payung kuncup elektrik.
Dalam sosiologi perkotaan, masjid seperti ini berfungsi sebagai “Ruang Ketiga” (The Third Place). Ray Oldenburg, seorang sosiolog urban, mendefinisikan ruang ketiga sebagai tempat netral di mana komunitas berkumpul dan berinteraksi santai.
Suasana lampunya yang hangat dan angin sore yang sejuk menjadikan lokasi ini spot ngabuburit terbaik di Semarang. Saya jadi mellow, teringat masa-masa aktif di remaja masjid kampus dulu.
Fungsi Beranda Masjid
Selain tempat ibadah fungsi lain dari Masjid Agung ini adalah aktivitas sosial seperti pendidikan. Usai shalat Magrib saya kembali undur ke pelataran, memperhatikan beberapa kelompok anak muda menggunakan fungsi sosialnya dengan berdiskusi. Lampu-lampu yang berasal dari tiang payung kuncup elektrik membuat lantai marmer putih yang mereka diduduki bercahaya seolah mewakili jiwa muda yang begitu semangat menimba ilmu. Saya jadi mellow sendiri, ingat kegiatan remaja masjid semasa di kampus dulu.
Iya ini rumah ibadah. Tempat semua asa umat yang percara diletakan di dalamnya. Tempat kerasnya doa dilantunkan. Dan ketika kata-kata berubah jadi relasi atas- bawah, Yang Atas dengan sang hamba, apa lagi yang saya harap selain atmosfir yang mistis yang susah saya jelaskan dengan kata-kata.
Sama seperti semua pengunjung saya membuka sepatu di tanda Garis Suci yang sudah ditentukan. Jauh dari tempat shalat, melintasi pelataran lebar yang dilengkapi 6 payung raksasa. Karena tidak punya kantong plastik untuk menyimpan, berdoa saja sepatu itu tak lenyap saat usai shalat. Kalau hilang saya akan nyeker sampai ke Tangerang. Dan Alhamdulillah ternyata saya tak perlu nyeker.
Menikmati View Kota Semarang dari Menara Asmaul Husna
Ikon lain yang tak boleh Sobat JEI lewatkan adalah Menara Al Husna. Menara ini berdiri gagah setinggi 99 meter di pojok pelataran. Angka 99 ini melambangkan Asmaul Husna.
Fasilitas di menara ini cukup lengkap:
- Lantai 1: Studio Radio Dais.
- Lantai 2 & 3: Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah.
- Lantai 18: Kafe Muslim berputar (bisa menikmati pemandangan sambil makan).
- Lantai 19: Gardu pandang dengan teropong.
Sayangnya, kafe dan perpustakaan sudah tutup saat saya hendak naik. Saya langsung menuju pelataran tertinggi. Dari sini, view Kota Semarang dari Menara Asmaul Husna terlihat spektakuler 360 derajat. Kota Semarang tampak seperti hamparan lampu yang berkelap-kelip, sementara bangunan induk masjid terlihat seperti cungkup cendawan raksasa yang bercahaya di tengah kegelapan.
Gerimis mulai turun saat kami beranjak pulang. Aroma petrichor (bau hujan) menyeruak, membuat hati semakin teduh. Saya meninggalkan lokasi dengan doa, semoga suatu saat bisa kembali ke sini.
Baca juga :
- Masjid Jami Air Tiris Kampar Riau
- Masjid Merah Panjunan Cirebon
- Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus
- Masjid Terapung Pantai Losari
- Masjid Itje Tasikmalaya
