Halo, Sobat JEI! Pernahkah kalian membayangkan bagaimana sebuah kota bisa dijuluki berdasarkan aroma cengkeh yang terbakar?
Selamat datang di Museum Kretek Kudus. Di sinilah tersimpan cerita epik tentang kejayaan, kebangkrutan, dan warisan budaya yang tak ternilai. Sebuah wawasan sejarah yang perlu banget diketahui oleh generasi muda.
Saat melangkah masuk, saya seolah disapa oleh Pak Nitisemito. Melalui patung setengah badan di jendela rumah adat yang ada di dalam museum, Sang Raja Kretek ini seolah bercerita:
“Panggil aku Nitisemito. Nama kecilku Rusdi, lahir di Desa Janggalan, Kudus, tahun 1874. Aku buta huruf, tak pernah sekolah, tapi aku pembelajar sejati. Jatuh bangun jadi buruh jahit di Malang, pengusaha pakaian, hingga kusir dokar, tak mematahkan semangatku. Bersama istriku, Nasilah, kami meracik tembakau dan cengkeh. Kami bekerja keras hingga mampu mendirikan kerajaan bisnis Bal Tiga…”
Mari kita bedah lebih dalam pengalaman saya mengunjungi museum ini, lengkap dengan fakta sejarah yang mungkin belum Sobat JEI ketahui.
Pertemuan Imaji dengan Nitisemito, Sang Pionir
Posisi patung Nitisemito berada tepat di sebelah kiri pintu masuk. Ia berdiri anggun, seolah menjadi tuan rumah yang ramah bagi setiap pengunjung yang ingin memulai eksplorasi.
Menurut catatan sejarah ekonomi, Nitisemito bukan sekadar pengusaha lokal biasa. Ia adalah salah satu konglomerat pribumi pertama di era Hindia Belanda. Kejeniusan pemasarannya melampaui zamannya; mulai dari menyewa pesawat Fokker untuk menyebar pamflet hingga memberikan hadiah piring cantik dan sepeda bagi pelanggan setianya. Tak heran jika ia layak disebut sebagai bapak sejarah rokok kretek Kudus.
Di belakang patungnya, terdapat Nitisemito’s Room. Ruang kecil ini menyimpan memori kejayaan masa lalunya, saksi bisu bagaimana industri rumahan bisa mengguncang ekonomi kolonial.
Suasana Museum Kretek Kudus, Apa yang Terjadi?
Jujur saja, saat pertama kali memarkir kendaraan, saya terkejut. Tiket masuknya sangat murah! Awalnya saya berpikir wajar karena ini dikelola pemerintah.
Namun, kejutan berlanjut saat masuk ke dalam. Suasananya berbeda jauh dengan House of Sampoerna di Surabaya yang glamor. Museum Kretek Kudus terasa lebih lengang, “plong”, dan sedikit sepi.
Sempat terbersit tanya, “Mengapa industri penyumbang cukai terbesar punya museum yang sederhana ini?”
Namun, persepsi saya berubah setelah berbincang dengan Pak Yanto, Kepala Museum. Museum ini bukan sekadar pameran, melainkan monumen perjuangan rakyat. Berdiri di lahan seluas 2,5 hektare, museum ini diresmikan tahun 1986 oleh Soepardjo Rustam yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah ketika itu, untuk mengenang peran kretek dalam menggerakkan ekonomi warga Kudus.
Baca Juga:
Menguak Asal-Usul dan Sejarah Penemuan Rokok Kretek
Siapa penemu kretek sebenarnya? Sobat JEI, sejarah mencatat nama H. Jamhari.
Penemuan ini terjadi karena ketidaksengajaan yang unik. H. Jamhari menderita sesak napas parah. Awalnya, beliau mengoleskan minyak cengkeh ke dada. Rasa hangatnya memberi kelegaan. Eksperimen berlanjut dengan mengunyah cengkeh.
Akhirnya, beliau merajang cengkeh halus-halus, mencampurnya dengan tembakau, dan membungkusnya dengan klobot (daun jagung kering).
Secara ilmiah, cengkeh mengandung senyawa Eugenol yang memiliki sifat analgesik (pereda nyeri) dan antiseptik. Inilah yang kemungkinan besar membuat napas H. Jamhari terasa lega. Bunyi “kretek-kretek” saat cengkeh terbakar itulah yang melahirkan nama legendaris ini. Dari obat sesak napas, ia berevolusi menjadi komoditas budaya yang membentuk sejarah rokok kretek Kudus.
Diskusi dengan Pak Yanto dan Realita Industri
Momen paling berkesan adalah saat saya dan Pak Yanto berbincang hangat. Beliau menjelaskan mengapa koleksi museum tampak “sedikit” dan suasananya sepi.
Ternyata, kampanye kesehatan global dan regulasi ketat berdampak besar. Dulu, Kudus dipenuhi pabrik rokok kecil. Kini, banyak yang gulung tikar. Museum Kretek Kudus menjadi saksi bisu pergeseran zaman ini.
Pabrik-pabrik kecil tak sanggup bertahan, menyisakan pemain bermodal raksasa. Hal ini berdampak domino pada buruh linting, petani tembakau, hingga pedagang asongan.
Narasi Pak Yanto membuka mata saya. Museum ini bukan hanya tentang rokok, tapi tentang survival (kemampuan bertahan hidup) masyarakat Kudus menghadapi perubahan regulasi dan zaman.
Masih banyak cerita lainnya dari Pak Yanto. Karena ia mempercayai kami tak elok pulalah saya buka semuanya. Seperti Nitisemito yang tak membuka kisah kebangkrutan usahanya pada salam pemuka tadi, biar lah cerita itu hanya jadi milik kami.
Info Terkini: Lokasi, Tiket, dan Jam Buka
Bagi Sobat JEI yang ingin menelusuri jejak sejarah ini, berikut informasi terbaru untuk persiapan kunjungan kalian:
- Lokasi: Jl. Getas Pejaten No.155, Kec. Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (Sekitar 10 menit dari pusat kota/Alun-alun Simpang Tujuh Kudus).
- Jam Buka: 08.00 – 15.00 WIB (Setiap hari).
- Harga Tiket: Sangat terjangkau, berkisar Rp4.000 – Rp5.000 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu, namun tetap ramah di kantong).
- Fasilitas: Selain ruang pameran, terdapat juga rumah adat Kudus (Joglo Pencu) yang sangat instagramable, kolam renang mini, dan area bermain anak.
Harapan untuk Warisan Budaya
Keluar dari Museum Kretek Kudus, harapan saya sederhana. Semoga ada pihak swasta atau donatur yang tergerak untuk memperkaya koleksi museum ini. Sayang banget kejayaan masa lalu ekonomi kawasan Kudus luntur begitu saja karena kurangnya dana.
Kisah Nitisemito dan H. Jamhari terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Warisan ini layak berdiri sejajar dengan museum-museum modern lainnya, menyapa generasi muda dengan bangga.
Bagaimana Sobat JEI, tertarik memasukkan Kudus ke dalam itinerary perjalanan berikutnya?
eviindrawanto.com



