Pernahkah teman-teman melintas di kawasan Pantai Karang Hawu, Sukabumi? Di antara deretan pantai yang mempesona di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, ada satu titik yang menyimpan aura magis cukup kuat. Jika teman-teman perhatikan, tepat di kaki bukit sebelah kiri (jika datang dari arah Terminal Palabuhanratu), berdiri sebuah gapura dengan tulisan “Selamat Datang”.
Bagi wisatawan awam, mungkin ini terlihat seperti pintu masuk biasa. Namun, bagi para peziarah dan pencinta wisata sejarah, ini adalah gerbang menuju Gunung Kramat Winarum, lokasi di mana terdapat Petilasan Nyi Roro Kidul.
Berbeda dengan artikel lawas yang mungkin pernah teman-teman baca, kondisi kawasan ini sekarang sudah jauh lebih tertata pasca-revitalisasi kawasan wisata Karang Hawu. Yuk, kita bedah lebih dalam apa saja yang ada di sana!
Bukan Sekadar Kuburan, Ini Adalah Petilasan

Sering terjadi salah kaprah di kalangan wisatawan yang mengira tempat ini adalah makam (kuburan) Nyi Roro Kidul. Mari kita luruskan dulu. Tempat ini adalah petilasan.
Dalam budaya Jawa dan Sunda, petilasan berasal dari kata “tilas” (bekas), yang berarti tempat di mana seseorang yang dianggap sakti atau penting pernah singgah, bertapa, atau bahkan moksa (menghilang dari dunia fana). Jadi, ini bukan tempat jasad dimakamkan, melainkan tempat “peristirahatan” spiritual.
Menurut legenda setempat yang dipercaya turun-temurun, di bukit karang inilah Dewi Kadita (putri Kerajaan Pajajaran yang kemudian menjadi Nyi Roro Kidul) menceburkan diri ke laut selatan untuk menyembuhkan penyakit kulitnya dan kemudian menjadi penguasa lautan.
Pendakian Menuju Puncak Winarum
Untuk mencapai petilasan, teman-teman harus menyiapkan fisik. Ada puluhan anak tangga semen yang harus didaki. Dulu, mungkin areanya terkesan agak suram, tapi sekarang aksesnya sudah cukup baik meski tetap menanjak.
Saat mendaki, teman-teman akan ditemani pemandangan kontras. Di satu sisi, hamparan laut lepas Samudra Hindia yang memukau dengan ombak ganasnya. Di sisi lain, ada Bukit Rahayu yang rimbun dan terkesan lebih wingit (angker). Konon, di Bukit Rahayu terdapat makam Raden Dikudratullah (atau Raden Cengkal) dan Syekh Hasan Ali, ulama penyebar agama Islam di Sukabumi. Area ini biasanya tertutup untuk umum dan hanya diziarahi oleh keturunan atau pemilik lahan.
Suasana di Kompleks Petilasan
Sesampainya di atas, teman-teman tidak akan langsung menemukan suasana mistis yang mencekam, melainkan area yang cukup ramai—terutama di bulan-bulan tertentu seperti bulan Suro atau menjelang puasa. Ada warung-warung kecil dan pos penjaga.
Pusat dari area ini adalah sebuah bangunan yang didominasi warna hijau—warna kebesaran Nyi Roro Kidul. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan khusus (kamar) yang dipercaya sebagai titik petilasan Sang Ratu. Ruangan ini dihiasi kelambu putih, lukisan Nyi Roro Kidul, dan aroma dupa atau bunga tujuh rupa yang sering dibawa peziarah.
Apakah teman-teman boleh masuk? Boleh, namun ada etikanya. Biasanya ada “kuncen” atau juru kunci yang akan memandu. Jika teman-teman hanya ingin sekadar melihat atau berfoto (sebagai dokumentasi budaya, bukan untuk ritual aneh-aneh), bicaralah dengan sopan kepada penjaga. Ingat, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Hormati mereka yang sedang berdoa atau bertafakur di sana.
Mitos Karang Hawu: “Tungku” Pengabul Hajat?
Selain petilasan di atas bukit, daya tarik utama kawasan ini adalah formasi karangnya. Nama Karang Hawu sendiri berasal dari kata Sunda Hawu yang berarti “Tungku”. Gugusan karang di pantai ini memang berlubang-lubang menyerupai tungku dapur tradisional.
Mitos yang beredar luas mengatakan:
- Air Berkah: Membasuh muka dengan air yang terperangkap di cekungan karang hawu dipercaya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh.
- Pintu Gerbang Gaib: Karang yang menjorok ke laut ini diyakini sebagai “pintu gerbang” menuju kerajaan gaib Nyi Roro Kidul.
Terlepas percaya atau tidak, pemandangan dari atas bukit karang ini adalah salah satu spot matahari terbenam (sunset) terbaik di Sukabumi!
Informasi Praktis & Tips Berkunjung (Update 2025)
Jika teman-teman tertarik berkunjung, berikut adalah informasi terbaru agar tidak bingung:
- Lokasi: Desa Cisolok, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi (sekitar 15-20 menit dari pusat kota Palabuhanratu).
- Tiket Masuk: Berbeda dengan hotel-hotel mewah, masuk ke kawasan Pantai Karang Hawu sangat terjangkau. Tiket masuk kawasan pantai berkisar Rp2.500 – Rp5.000 per orang.
- Biaya di Petilasan: Tidak ada tiket resmi untuk naik ke petilasan, namun biasanya ada kotak amal atau sumbangan sukarela di pos penjagaan dan untuk juru kunci. Siapkan uang pecahan kecil (Rp5.000 – Rp20.000) sebagai bentuk apresiasi kebersihan dan pengelolaan.
- Fasilitas: Sekarang sudah ada gazebo-gazebo cantik di pinggir pantai (hasil revitalisasi Pemprov Jabar), toilet, mushola, dan area parkir yang luas.
- Pembeda: Jangan tertukar ya! Petilasan ini adalah situs alam/sejarah. Jika teman-teman mencari kamar hotel yang didedikasikan untuk Nyi Roro Kidul (Kamar 308), itu letaknya di Grand Inna Samudra Beach Hotel, lokasi yang berbeda meski masih satu garis pantai.
Kapan ke Sukabumi?
Jalan-jalan ke Petilasan Nyi Roro Kidul di Karang Hawu bukan hanya soal klenik atau mistis. Ini adalah perjalanan budaya dan apresiasi alam. Teman-teman bisa belajar tentang bagaimana masyarakat lokal merawat legenda leluhur mereka, sekaligus menikmati panorama laut selatan yang tak tertandingi.
Jadi, kapan teman-teman mau main ke Sukabumi? Siapkan fisik untuk menaiki tangga, dan jangan lupa bawa kamera!
Link Makam-Makam Keramat di Indonesia
- Lihat Posting Makam Prabu Hariang Kancana, Goa Safarwadi Pamijahan, dan Makam sunan Kudus.
Iya saya menemukan ketertarikan yang aneh kala berada di makam-makam keremat seperti ini. Merasa dekat dengan Yang Di Atas, terberkati, dan menohok rasa syukur.
Begitu pun yang ingi membaca tentang Kompleks Makam Sultan Hassanudin di Makassar silahkan di klik linknya. Begitu juga Makam Sultan Suriansyah di Banjarmasin .
Teman-teman juga bisa membaca tentang Makam Keramat di Pulau Angso Duo. Makam ini terletak di Sumatera Barat.
Baca juga :

